Demi

                                Demi

Oleh : Putri Hagana Br.Sembiring

  Langit hari ini tampak begitu temaram, sesekali terdengar suara bergemuruh menggema dari balik awan, seakan mengabarkan kepada seluruh penjuru bumi bahwa hujan bisa saja jatuh kapan saja membasahi bumi.
Angin yang tadinya hanya perlahan menembus baju tiba-tiba menjadi angin yang begitu kencang. Matahari sore yang begitu kusukai dan ingin kunikmati di setiap harinya tak dapat kunikmati hari ini. Cuaca begitu sangat tak kusukai. Tapi bagaimana pun juga aku bukanlah orang yang suka menyalahkan sesuatu yang telah diciptakan oleh-Nya. Betapapun aku tak menginginkan hujan saat ini, tetap saja aku akan bersyukur dan membaca doa turun hujan jika benar hujan itu akan turun.
  Aku berjalan lunglai menyusuri trotoar jalan. Keramaian di sekitar ku tak kuperdulikan sama sekali. Aku berjalan dan terus berjalan tanpa memperdulikan orang-orang yang lalu lalang di sekelilingku. Beberapa orang mulai mempercepat langkahnya seakan sadar hujan akan segera turun membasahi dirinya. Ada yang mulai berlari kecil sambil menggendong anaknya. Terlihat jelas dia tak ingin air hujan membasahi anaknya. Aku hanya menyaksikan semuanya tanpa bergegas ataupun mempercepat langkahku. Aku sibuk berdebat dengan pikiranku sendiri. Hati dan pikiranku tidak dapat bekerja sama. Aku mengingat lagi kejadian semalam sore saat keluargaku sedang berkumpul di rumah nenek.
Hari ini adalah hari keluarga. Keluarga ku memang memiliki hari keluarga dimana seluruh keluarga besarku akan berkumpul di rumah nenek. Kebetulan saja untuk tahun ini di rayakan di rumah nenek. Dan aku lebih senang di rumah nenek saja. Karena sepertinya rumah nenek adalah tempat yang paling tepat untuk mempertemukan beberapa keluarga yang sibuk dengan kehidupan nya masing-masing. Saat aku sedang berbincang-bincang dengan beberapa sepupu dan adik-adikku, tiba-tiba saja ibu memanggilku.
“Ana, kemarilah. Tante dan pamanmu ingin mengobrol denganmu” kudengar suara ibu yang mulai perlahan mendekatiku.
”Baik, Bu”. jawabku. Aku langsung bergegas menuju tempat dimana ibu, ayah, nenek, paman, dan tanteku sedang berkumpul.
“Paman ingin menawarimu untuk ikut dengan paman dan melanjutkan pendidikanmu”, kudengar suara paman yang begitu tegas. 
Aku sedikit takut, karena aku memang jarang berkomunikasi dengan pamanku yang sudah lama tinggal di luar kota ini, tepatnya di Surabaya. Aku masih terdiam dan kudengar suara pamanku yang lebih muda menawarkanku juga.
”Kalau mau sama paman juga bisa, malah tidak terlalu jauh, Ana kan tau sendiri paman salah satu Dosen di Universitas Palangkaraya, jadi Ana bisa ikut paman dan paman bisa mendaftarkanmu disana,” ucap pamanku yang bernama paman Andre.
Aku semakin bingung. Sementara aku hanya ingin melanjutkan pendidikanku di kota ini saja. ”Kalau tidak ikut tante juga bisa, tante kan masih tinggal sendiri di Semarang, kamu bisa kuliah sekaligus menemani tante kan”, Kualihkan pandanganku ke arah suara yang sudah sangat tidak begitu asing bagiku, yaitu suara Ibu. “Nanti biar ana pikirkan dulu, Bu”. Ana sangat berterima kasih kepada paman dan tante, besok pagi pasti Ana akan memutuskan dimana Ana akan melanjutkan pendidikan Ana”. Ucapku dengan sedikit terbata. 
Aku memikirkan banyak hal. Di usia yang sudah lulus SMA wajar saja bila aku menaruh perasaan kepada seorang laki-laki. Aku menyukainya ketika aku duduk di bangku kelas 3 SMA. Dia seangkatan denganku, hanya saja kami tidak berada di satu sekolah. Kudengar dari temanku dia akan melanjutkan pendidikan di salah satu universitas negeri di kota ini. Itu lah yang membuatku semakin bingung. Ingin sekali rasanya bisa satu kampus dengannya. Aku tak menyadari ternyata aku sedang melamun. Sampai tiba-tiba suara tanteku tepatnya kakak dari ibu ku membuyarkan lamunanku. Tanteku menawariku tinggal bersamanya di kota ini. Awalnya aku sangat senang mendengar hal itu. Itu artinya aku akan satu kampus dengannya. Tapi aku akhirnya kecewa setelah tanteku mengatakan bahwa syarat nya aku harus mengambil jurusan farmasi sesuai dengan usahanya dan jurusan yang tidak aku sukai. Kembali, aku harus mempertimbangkan tawaran tante dan pamanku untuk ikut dengan mereka ke luar kota. Sedih sekali rasanya.
  Aku terus membolak-balikkan badanku kesana kemari. Malam ini aku tak dapat tidur. Percakapan tadi sore terus mengganggu pikiranku. Sampai akhirnya aku dapat tertidur pada tengah malam. Keesokan harinya pada saat aku terbangun, aku masih mengingat dengan jelas sebelum tertidur aku masih sempat melihat jam pada layar ponsel ku dan waktu menunjukkan pukul 01.00 malam. Itu berarti aku tertidur larut malam.
  Langit sore semakin hitam. Pertanda hujan memang akan segera turun. Jalanan mulai sepi. Aku segera mempercepat langkahku. Sekali lagi melewati persimpangan maka aku pasti akan segera sampai di rumah. Sesampainya di rumah ibu langsung menanyaiku.
”Kamu darimana saja, Na?”Tanya ibu yang sedang merapikan bunga di depan rumah.
“Dari taman, Bu. Tadi cuma jalan-jalan sore saja”,sahutku. ”Ya sudah, kamu segera mandi, setelah itu sholat maghrib berjamaah,Ya!” perintah ibu. Setelah mengiyakan aku langsung bergegas menuju kamarku.
Sehabis sholat maghrib ayah dan ibu langsung menanyakan keputusanku. Aku dengan yakin akhirnya mengatakan aku akan ikut tante yang tinggal di Kota Semarang. Sebagaimana yang memang di sarankan oleh ibu, tante tinggal sendirian di sana, sehingga dengan berangkatnya aku ke semarang, selain meneruskan pendidikanku juga bisa menemani tante disana. Ayah dan ibu menyetujuinya dan akan menyiapkan segala sesuatu nya mengenai keberangkatanku .
  Pagi ini matahari begitu sangat cerah. Tidak seperti perasaanku yang sedikit mendung. Tapi aku mencoba untuk selalu kelihatan tegar. Karena ini adalah pilihanku sendiri. Aku melihat seluruh jalan ketika akan menuju bandara Kualanamu, Medan. Aku bahkan tak ingin melewatkan suasana kota ini walau sebentar saja. Aku pasti akan sangat merindukan kota ini. Tempatku dilahirkan sampai aku menyelesaikan Sekolah Menengah Atas. Ada perasaan bahagia yang kurasakan, tetapi bagaimanapun juga jauh dari lubuk hatiku aku begitu sedih, aku akan berangkat meninggalkan kota yang begitu selalu ku banggakan, Pelukan ibu, ayah, adik, kakak, dan keluargaku yang lain saat di bandara pasti akan selalu kurasakan. Aku pasti akan selalu terjebak dalam perasaan rindu. Aku pasti akan sering merayakan kesendirian dan kesepian. Tapi aku memahami semua ini demi mereka yang kusayangi. Aku pergi untuk kembali. Tanah Sumatera akan selalu menjadi tempatku kembali sejauh apapun aku melangkah. Aku pernah membaca kalimat yang berbunyi ”Sometimes we have to leave about parents, familys, home, friends, and love. But at the end, it’s all for them”. Sekarang aku mengerti maksud dari kalimat tersebut. Hal yang memang ku alami saat ini. Semua memang penuh pengorbanan terlebih dahulu. Meninggalkan orang tua, keluarga, rumah, teman, dan Cinta. Pergi untuk kembali. Dan semua itu demi mereka. Demi mewujudkan cita-cita yang ingin ku capai. Demi mewujudkan harapan-harapan. Demi meraih impian. Demi meraih mimpi-mimpi  yang begitu tinggi. Demi keinginan yang sangat besar untuk membahagiakan mereka. Demi mereka yang kita sayangi. 

Demi…

-Putri Hagana Br. Sembiring salah satu mahasiswa PBSI/FPBS Universitas PGRI Semarang-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Skenario pembelajaran